Cari Blog Ini

Jumat, 07 Februari 2014

Wahai Manusia!

Makhluk yang paradoks, yah...itulah manusia. Kapanpun, manusia pantas disebut dengan paradoks. Manusia dibekali akal dan melalui itulah mereka dibedakan dengan binatang. Namun, karena itulah manusia senantiasa menjadi makhluk yang paradoks. Selalu terjadi pertarungan akal. Sungguh tidak penting memikirkan mana yang kalah dan menang. Semua mengalir bak air sungai yang pada akhirnya akan sampai ke laut luas. Pertarungan akal itu selalu terjadi, tiada akhir. Hal ini karena, manusia pada dasarnya hidup untuk itu saja. Manusia hidup hanya untuk bergulat dengan pikirannya saja, tidak untuk yang lain. Dan hal ini juga menjelaskan mengapa manusia pada akhirnya nanti harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, baik yang terlihat maupun yang tidak. 

Jika memang harus terpaksa dikategorikan, manusia sebagai akibat dari pertarungan akalnya akan terbagi pada dua kategori. Pertama, kategori manusia individual. pada kategori ini tentu manusia akan lebih sok menang sendiri, sok tau sendiri, dan sok sok lainnya. Kedua, ketegori manusia yang sosialis. Pada kategori ini, manusia akan lebih malas berinisiatif, bergantung dengan orang lain, manja, dan sosial-sosial lainnya. Namun ada juga manusia yang berada dikedua kategori itu. Ya, dia lah sang "pengabur". Orang yang bisa disebut juga fleksibel, atau tidak jelas, munafik dan sebagainya. 

Akal manusia tidak akan pernah diam. Dia terus bergerak, menggelora, dan menyeruakan emosi dan perilaku. Apapun kategori manusianya, baik normal maupun tidak, tetap mereka akan memiliki akal yang andal dalam kehidupannya. Mungkin sekian dari saya. Ini hanya catatan dari renungan saya saja. 


Rabu, 25 Juni 2008

ANARKI OR BERANI

Peristiwa yang terjadi 24 Juni 2008 kira-kira pukul 16:00 sore di depan kampus Atmajaya -Sudirman yang membuat kemacetan total di sekitar jalan menuju Sudirman itu banyak mengundang komentar dari banyak kalangan, baik media maupun celotehan masyarakat. Seperti TV One pada pagi esok harinya dengan mengundang perwakilan mahasiswa-Forkot saya lupa namanya. Tentu saja mahasiswa tersebut membela aksi mereka dan beberapa tanggapan pemirsa hampir rata-rata tidak setuju dengan aksi mahasiswa yang dianggap terlalu berlebihan. Pada saat saya menonton acara tersebut, saya kepingin sekali berkomentar tapi no telfonnya tidak ditampilkan. Yah..terpaksa saya pendam. Namun ketimbang saya pendam mending saya utarakan melalui Blog ini.
Menurut saya yang awam dalam hal tersebut, aksi dari mahasiswa yang mengatas namakan rakyat tersebut rindu saya nantikan. Yah..memang banyak aksi yang memprotes kebijakan pemerintah sebelumnya, namun tidak seperti kejadian Mei 1998. Eh.. muncul kembali!!
Entah saya mau mulai dari mana tulisan ini, saya seperti berada di dua arus yang berbeda. Baiklah saya coba.
Saya menganggap wajar aksi yang dilakukan mahasiwa itu terjadi, kenapa? Karena bila bukan mereka yang memulai siapa yang memulai? Saya pribadi misalnya, saya pekerja, selalu disibukkan dengan pekerjaan, pulang kerja istirahat, dst. Atau teman-teman yang dari bermacam-macam kalangan (ibu rumah tangga-buruh-OB-Pengusaha-dll) mereka semua sudah merasa menempati posisi aman atau bahasa kerennya balancing circcum. Biar negara sedang terombang ambing mereka tetap menjadi individu yang tercerai berai dengan berharap pada posisi amanya. Saya kira mahasiswa yang beraksi kemarin berani keluar dari dari posisi aman mereka ke jalur yang mereka sepakati bersama, yah keinginan diluarnya sih "turunkan BBM", saya nggak tau sebenarnya motif sebenarnya. Terlepas dari ketepatan motif, imbas dari aksi tersebut terhadap pemerintah adalah sebagai reminder (pengingat) bahwa meski pada era reformasi (katanya) masih ada segelintir rakyat yang memiliki harapan besar terhadap pemerintah.
Bila aksi tersebut dibilang anarkis, saya kira ya bila dilihat dari hasil kerusakan dan gangguan umum yang dihasilkan (mobil dibakar, jalan macet, orang tegang, dsb). Namun bila dilihat dari maksud dari pengrusakkan, saya kira mereka berani..sangat berani. Saya berkata seperti ini bukan berarti saya dari kalangan mereka. Melainkan dari dorongan hati saya yang menganggap hal itu atau keberadaan mereka merupakan penyeimbang dari kehidupan bernegara kita. Ini menurut saya, Kalau ANDA?????

Senin, 03 Maret 2008

Air; Central Perang Dunia Selanjutnya

Pasti sudah banyak yang engeh atau tahu, bahwa Perang Dunia (PD) 1 yang terjadi pada 1914-1918 dan disebut sebagai war to end all war (perang untuk mengakhiri semua perang). Awalnya memang memiliki keinginan; perang dunia 1 menghapus konflik antar kubu yang bertikai. Namun nyatanya menjadi pemicu perang selanjutnya, seperti perang dingin antara Uni Soviet (sekarang Rusia), Perang Dunia 2 akibat munculnya rezim Nazi.
Perang dengan berbagai macam dampak negatif yang menyertainya pastilah memiliki sumber awal yang memicu. PD 1, menurut pemberitaan yang sudah berlangsung selama ini sebagai akibat dibunuhnya pangeran Austria-Ferdinand oleh Gavrilo Princip, namun dibalik itu motivasi kelompok yang memanfaatkan Princip adalah material. Mereka memperebutkan sesuatu yang sebenarnya bisa dirundingkan. Lalu PD 2 memiliki pemicu yang sama yakni material-sumber minyak dan seterusnya.
Sumber pemicu yang menjadi awal penunjukan ego-ego pemimpin negara demikian penting dan nampaknya sumber tersebut sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat dunia pada saat itu serta jelas mendatangkan kesejahteraan-perut kenyang-fisiologis. Hal itulah yang bisa disebut 'manusia sama saja dengan hewan' rela menghilangkan-membunuh demi kebutuhan fisiologis.
Jika memang kebutuhan fisiologis menjadi pemicu, sepertinya perlu diwaspadai kebutuhan-kebutuhan yang urgen oleh masyarakat dunia. Seperti pada 2007-seterusnya, sebagai akibat dari keserakahan manusia sumber vital kebutuhan manusia-air mengalami kesurutan yang luar biasa. Sumber air bersih (higienis) menjadi fokus di beberapa negara, termasuk Indonesia. Sebenarnya Peringatan akan terbatasnya sumber air sudah dimulai Di Brasil 1992 dan terus 'dipompa' oleh beberapa organisasi yang concern. Hal ini menandakan bahwa air menjadi penting untuk dimusyawarahkan. Bila dibiarkan terbengkalai, pasokan air sedikit demi sedikit habis sehingga bisa jadi menjadi pemicu PD 3. WASPADALAH!!!

Senin, 18 Februari 2008

Power Distance

Bosankah membicarakan arah depan negara Indonesia? saya rasa hampir semua pasti bosan. Mengapa demikian? Saya kira, apa yang sering dilontarkan oleh banyak kalangan yang concern kepada masa depan dan kekinian Indonesia merupakan konsep yang hampir rata-rata brilian. Misalnya, terkait dengan masalah proyek subkontraktor dengan kontraktor utama asing dipersyaratkan harus menggunakan kandungan lokal tertentu dengan nilai 23 juta dollar AS, Ardhian Novianto dan Banu Astono dalam "Membongkar Budaya" menawarkan ide "Rebut Kontrol Lokal". Dan masih banyak individu-individu yang menginginkan cerahnya masa depan Indonesia menawarkan konsep-konsep yang brilian. Namun, fakta yang berkembang banyak konsep-konsep yang 'menguap' begitu saja ditimbun dengan konsep baru tanpa ada implementasi yang sesuai. Sehingga saya pribadi berpikir bahwa sepertinya ketidakseimbangan dalam berpikir dan berbuat hampir tidak menjadi kebiasaan masyarakat kita atau telah mewabah atau membudaya.
Hal ini berarti menambah daftar budaya yang dianggap menghambat perkembangan negara, seperti saya yakin kita semua setuju bahwa senioritas (menghormati pemimpin dan penguasa) merupakan hal yang telah membudaya dan banyak yang menganggap menghambat. Dan masih banyak sebutan-sebutan yang memblok perjuangan negara.
Namun disamping ketidaksetujuan mereka yang menganggap senioritas menghambat, sebenarnya itu merupakan keuntungan yang dapat digunakan oleh pemimpin yang sedang berkuasa (siapapun itu) menggerakan massa ke arah yang baik terutama, karena budaya kita yang patuh kepada pemimpin. Seperti Adolf Hitler dengan lontaran kata-katanya di depan masyarakat Nazi (Jerman pada waktu itu) menggerakan nurani rakyatnya mendukung ideologi Nazi, sehingga tidak heran bila muncul jargon "Jerman=Negara Petarung". Secara tidak langsung seorang Adolf Hitler menggunakan kekuatannya untuk membentuk tatanan masyarakat yang dia inginkan.
Power distance merupakan istilah yang digunakan ahli sosial dari negeri kincir angin-Belanda, Geertz Hofstede untuk menyebut fenomena masyarakat Asia. Suatu langkah yang tepat digunakan untuk pemimpin-pemimpin Indonesia untuk menggerakan massa ke arah yang lebih baik. Jadi, dimulai dari 'kepala' bukan 'badan', 'tangan', dan 'kaki'. MERDEKA_Damai dunia!

Jumat, 08 Februari 2008

Manusia Sempurna-Ungkapan Santai

Perjalanan individu mengikuti alur yang telah diskenariokan Tuhan merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakan. Pasti akan terus berlangsung, meskipun sang empunya 'emoh'. Setiap individu pastilah memiliki alur yang berbeda-beda. Namun secara global akan tampak sama, yakni menuju kesempurnaan.
Banyak yang mengeluhkan untuk menjadi sempurna itu sulit. Namun sebenarnya hal itu sangatlah mudah. Cobalah memilah apakah dalam diri kita memiliki kelemahan dan kelebihan, lalu renungkan setiap poinnya, serta tentukan sikap. Dengan mengetahui sampai penentuan sikap yang akan kita pakai itu kita sudah mencapai kesempurnaan (dalam cara berpikir saya tentunya).